Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah salah satu teknologi yang menjadi kunci utama perubahan besar di masa depan. Walaupun demikian, ada beberapa dampak negatif artificial intelligence yang memungkinkan terjadi.
Bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk, menyebutkan bahwa AI bisa sangat berbahaya, bahkan melebihi nuklir. Ia dapat mengeluarkan pernyataan tersebut karena mampu mengikuti perkembangan teknologi AI saat ini.
Apa yang membuat Musk merasa takut adalah karena teknologi tersebut belum banyak diketahui orang, dan tingkat perkembangan Ai yang eksponensial. Berikut adalah beberapa dampak negatif artificial intelligence:
Meningkatnya Jumlah Pengangguran
Ini merupakan bahaya yang sering menjadi perhatian banyak orang. Akan muncul pengangguran karena lapangan pekerjaan yang mulai digantikan kecerdasan buatan, disebut sebagai otomatisasi.
Menurut penelitian Brookings Institution pada tahun 2019, terdapat 36 juta orang yang bisa digantikan oleh otomatisasi sehingga akan kehilangan pekerjaan. Ada juga 705 dari pekerjaan tersebut, termasuk untuk bidang penjualan, pekerjaan Gudang, dan analisis pasar bisa digantikan AI.
Walaupun AI bisa menciptakan lapangan pekerjaan, John C. Havens mengungkapkan bahwa lapangan pekerjaan yang muncul tersebut tidak bisa mengatasi hilangnya lapangan pekerjaan karena sudah diambil alih oleh AI.
Havens juga pernah mewawancarai seorang pemilik perusahaan konsultan hukum terkait machine learning. Ia ingin merekrut lebih banyak orang, namun ia juga ingin mencapai hasil tertentu dalam saham.
Havens menemukan sebuah software dengan nilai jual hanya USD 200 ribu dan dapat menggantikan 10 pekerja, dengan gaji masing-masing pekerja yaitu USD 100 ribu. Itu artinya, penggunaan software tersebut telah menghemat hingga USD 800 ribu.
Dampak positif dari penggunaan software tersebut yaitu tingkat produktivitas meningkat hingga mencapai 70% dan tingkat kesalahan yang terjadi hanya 5%. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi pemegang saham.
Mengancam Keamanan Digital
Dampak negatif dari penggunaan artificial intelligence berikutnya yaitu keamanan digital. Sebuah makalah muncul dengan judul “The Malicious Use of Artificial Intelligence: Forecasting, Prevention, and Mitigation”, diterbitkan pada tahun 2018.
Makalah tersebut adalah hasil dari 26 peneliti perwakilan 14 institusi pada berbagai sektor menemukan adanya bahaya yang muncul karena artificial intelligence pada waktu tidak sampai lima tahun.
Laporan makalah ini dibuat hingga mencapai 100 halaman, memaparkan AI bisa digunakan untuk tindak criminal, meretas, dan membuat social engineering bagi korban dan sebagainya.
AI juga mengancam privasi seperti bagaimana pemerintah China menggunakan teknologi pengenal wajah ketika mendeteksi pergerakan warga di kantor, sekolah, atau tempat publik.
Deepfake
Apakah kamu pernah mendengar istilah deepfake? Sebagai produk hasil artificial intelligence, Deepfake bekerja untuk mengubah suara maupun wajah pada video. Pada awal kemunculannya, mungkin masih bisa dilihat dan ditinjau keasliannya.
Namun karena teknologi semakin canggih, penggunaan deepfake semakin sulit diidentifikasi apakah itu adalah video olahan atau video asli. AI pada pengolahan deepfake pasti akan semakin canggih di kemudian hari.
Bias Algoritma
AI sangat mungkin untuk bias terhadap suatu hal. Itu terjadi karena AI diciptakan dan dikembangkan oleh manusia. Manusia pun sanggup bias pada suatu hal.
Hal tersebut disampaikan oleh Olga Russakovsky, seorang Profesor dari Ilmu Komputer pada Universitas Princeton. Ia menyebutkan jika bias AI tidak terbatas pada suku bangsa atau gender.
Ia juga menyebutkan jika para peneliti AI mayoritas adalah laki-laki, dari demografis suku bangsa tertentu. Mereka adalah para peneliti yang dibesarkan pada sosial ekonomi tinggi. Mereka juga kebanyakan bukanlah orang-orang dengan disabilitas. Karena mereka adalah homogen, maka tantangan paling besar adalah bagaimana berpikir luas terkait masalah dunia.
Menurut peneliti Google, Timnit Gebru, sumber bias bukanlah bidang teknologi, tapi bidang sosial. Ia juga menyebut jika ilmuwan justru manusia paling berbahaya karena mempunyai ilusi terkait objektivitas. Ilmuwan padahal harus punya dinamika sosial dunia, dan perubahan radikal dunia berada pada tingkat sosial.
Itulah beberapa contoh dari apa dampak negatif adanya artificial intelligence di dunia dan tantangannya di masa depan. Tentu saja, masih banyak hal-hal lain yang menjadi ketakutan terkait penggunaan AI di masa depan, seperti halnya otomatisasi senjata yang muncul karena adanya pengembangan senjata berteknologi AI untuk kekuatan militer.